Oleh Guru Kita Al Habib Muhdor Al Hamid
Benarlah hadits Nabi yang berbunyi:
الولد الصالح ريحانة من رياحين الجنة
Anak yang shaleh adalah wewangian dari surga. [Faidlul Qadir].
Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu. [HR Ahmad]
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu. [HR Ahmad]
Tambahan penting...
Anak adalah kebanggan orang tuanya dan setiap orang tua ingin memiliki anak yang bisa dibanggakan. Allah SWT berfirman :
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS al-Kahfi: 46)
Namun kenyataannya tidak semua anak demikian. Di ayat yang lain Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At-Taghabun:14)
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS al-Kahfi: 46)
Namun kenyataannya tidak semua anak demikian. Di ayat yang lain Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At-Taghabun:14)
Terlepas dari bangga atau tidaknya orang tua, maka hal yang
urgent adalah melihat sisi mana yang menjadi kebanggaan orang tua.
Sebab dari sinilah muncul permasalahan besar.Terdapat kisah dari ibu
siti yang berkunjung ke sebuah rumah sakit, membezuk anak temannya yang
sedang sakit. Teman ini seorang wanita karir lulusan S2 dari sebuah
universitas ternama. Anaknya adalah seorang anak perempuan yang cantik,
umurnya baru 6 tahunan. tak lupa ia membawakan sebuah boneka sebagai
buah tangan. Anak tersebut dengan cepat mengenalinya sebagai teman
mamanya . "bu siti ya?" " Ayoo.. bu siti.. 42: 6 berapa?” Sambil
menirukan gaya mengajar bu gurunya di kelas, " bu siti ..ayo..buat
kalimat.. saya pergi ke sekolah setelah itu pulangnya ke mall, bisa?"
Tahukah anda? Anak tersebut berada rumah sakit Jiwa di kawasan Jakarta
Timur. Apa yg sebenarnya terjadi? Ternyata menurut psikolog , anak ini
terlalu di forsir. dia mengikuti les matematika dan pelajaran sekolah
yang target tugasnya 1 buku harus selesai 10 menit, kemudian les bahasa
inggris, terus PR sekolah, dan les-les yang lain sampai anak ini terlalu
jenuh dan akhirnya mengalami gangguan jiwa akibat terlalu banyak
tekanan belajar. Yang mengharukan, saat melihat sang bunda menangis, si
anak cuma bilang.."bunda jangan nangis. aku kan pinter. tapi aku ga mau
tidur sama bunda yaa. aku maunya sama dokter ganteng/cantik aja.."
Begitulah akibatnya jika orang tua terobsesi dengan
prestasi dan kompetisi anak. Maka ketahuilah bahwa logika kompetisi
dalam pendidikan adalah logika yang menyesatkan. Anak berprestasi itu
tidak diukur dari jumlah juara dan piala. Alfie Kohn di tulisannya
berjudul The Case Against Competition. Setelah melakukan kajian terhadap
riset di bidang psikologi, sosiologi, pendidikan, biologi dan bidang
lainnya, beliau menyimpulkan bahwa kompetisi pada dasarnya buruk.
Kompetisi yang sehat dalam pendidikan adalah istilah yang rancu dan
kontrakdiktif. Kompetisi pada harga diri anak ibarat gula pada gigi.
Seperti semakin banyak gula maka semakin rusak gigi, begitu pula dengan
kompetisi, semakin banyak diikuti semakin merusak harga diri anak. Sebab
doktrin yang tertanam pada anak adalah “Menjadi baik tidaklah cukup,
bila tidak mengalahkan semua lawan”.
Lain halnya dengan cerita berikut. Suatu hari seluruh orang
tua murid diminta datang ke sekolah anaknya untuk melihat hasil
belajarnya. Anaknya maju ditemani seorang pria, yang ternyata guru
ngajinya. Anak itu berkata : Ayah, aku ingin membaca Surah Al Kahfi.
Dengan suara indahnya sang anak mulai melantunkan ayat demi ayat. Ketika
sang guru bertanya: Kenapa kamu mengaji? Sang anak menjawab : Aku ingin
menjadi anak shaleh yang bisa mendoakan kedua orang tuaku masuk Surga.
Semua orang tua yang hadir bergetar hatinya dan melinangkan air mata,
begitu juga ayahnya, Ia lebih tersentak hatinya. sambil menangis
tersedu, Ia memeluk anaknya. lalu berbicara : Saya menyekolahkan anak
ini, dengan harapan ia menjadi orang yang pintar, hebat dan kaya agar
kelak ia dapat membahagiakan kami dengan hartanya. Namun hari ini anak
saya membuktikan, hatinya jauh lebih mulia dan jauh lebih hebat, karena
mengharapkan kami, orang tuanya masuk Surga. Subhanallah.
Benarlah hadits Nabi yang berbunyi:
الولد الصالح ريحانة من رياحين الجنة
Anak yang shaleh adalah wewangian dari surga. [Faidlul Qadir].
Anak
adalah harta yang paling berharga. Alangkah Indahnya apabila kita
mempunyai anak seperti mereka yang tidak hanya menjadi kebanggaan di
dunia tetapi juga di akhirat kelak seperti keterangan hadits di atas.
_Wallahu A’lam_. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita
untuk menyadari bahwa prestasi anak bukanlah dengan sejumlah piala yang
dikumpulkannya tapi bagaimana mereka taat kepada Rabbnya dan menjadi
anak yang shalih yang selalu mendoakan orangtuanya. SMG BERMANFAAT WA
BARAKAH

No comments:
Post a Comment