Oleh guru kita Al Habib Muhdor Al Hamid
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ زَادَ مُحْرِزٌ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Segala sesuatu memiliki Zakat, adapun zakatnya badan adalah puasa. Perawi Muhriz menambahkan hadits, Rasul SAW bersabda : Puasa itu separoh Kesabaran{HR Ibnu Majah]
لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ زَادَ مُحْرِزٌ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Segala sesuatu memiliki Zakat, adapun zakatnya badan adalah puasa. Perawi Muhriz menambahkan hadits, Rasul SAW bersabda : Puasa itu separoh Kesabaran{HR Ibnu Majah]
_Catatan penting..._
Berdasarkan hadits ini, Imam Ghazali mengatakan bahwa
posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Sehingga barang
siapa yang tidak puasa maka imannya kurang seperempat. Bagaimana bisa
demikian? Lihatlah sabda Nabi di atas yang berbunyi “ الصوم نصف الصبر”
puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits berikut “ الصبر نصف
الإيمان ” sabar adalah setengah dari iman. Dari sini menjadi jelas
secara matematis, puasa adalah seperempat bagian dari iman. [Ihya
Ulumiddin]
Puasa identik dengan kesabaran, bahkan semua jenis
kesabaran terdapat dalam ibadah puasa. Bukankah sabar ada tiga macam
yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan
sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan
sekarang lihatlah kesabaran yang dijalani orang yang berpuasa. (1) orang
yang berpuasa menahan sabar dalam melakukan ketaatan, (2) ia-pun sabar
dalam menjauhi larangan Allah seperti menjauhi berbagai macam syahwat
dan nafsu. (3) ia juga sabar terhadap rasa sakit yang harus dilalui saat
menjalani puasa seperti rasa lapar, dahaga, dan badan yang terasa lesu
dan lemas. [Latha’if Al-Ma’arif]
Sungguh besar pahala yang didapat oleh orang yang bersabar. Ia akan mendapat balasan sebagaimana difirmankan oleh Allah swt :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar [39]: 10) Seperti itu pulalah yang didapat oleh orang yang berpuasa, maka itulah rahasia mengapa Allah berfirman dalam hadits qudsy :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.[HR Bukhari]
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar [39]: 10) Seperti itu pulalah yang didapat oleh orang yang berpuasa, maka itulah rahasia mengapa Allah berfirman dalam hadits qudsy :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.[HR Bukhari]
Lebih jelas lagi, dalam riwayat lain disebutkan :
وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya” [HR Ahmad]
وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya” [HR Ahmad]
Puasa dan sabar tidaklah bisa dipisahkan meskipun hakikat
keduanya berbeda sebab kalau puasa itu untuk Allah (As-Shaumu Li) maka
sabar sebenarnya untuk manusia. Betapa tidak manfaat sabar akan kembali
kepada diri sendiri. Sabar dapat menjadikan hidup ini penuh kesejukan,
kedamaian, dan mendorong tercapainya cita-cita, menumbuhkan semangat
hidup dan tidak mudah putus asa, mendapatkan kebahagiaaan, dan terhindar
dari hal-hal yang buruk dan jauh dari masalah bahkan konflik.
Di satu pagi, seorang guru bijak berjalan melintasi sebuah
desa. Tiba-tiba, langkahnya dihentikan oleh seorang pemuda yang bertubuh
besar, beraut wajah marah dan tampak tidak senang."Hei," katanya kasar.
"Anda itu tidak berhak mengajari orang lain!" Tak berhenti di situ,
pemuda ini terus berteriak menantang dan menghina guru bijak ini. "Tahu
tidak? Anda ini sama saja bodohnya dengan orang lain. Punya kepandaian
sedikit saja, sudah sok tahu! Badan begitu kecil nyalimu cukup besar ya.
Ayoo... kalau berani kita berkelahi!" Mendapat "serangan" dari orang
yang tak dikenalnya, sang guru muda justru tersenyum dan berkata,
"Teman, Bolehkah aku bertanya keapdamu? Jika kamu memberi hadiah untuk
seseorang, tapi seseorang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik
hadiah itu?" Si pemuda terkejut, karena tiba-tiba diberi pertanyaan yang
aneh. Spontan, ia menjawab lantang, "Pertanyaan bodoh! Tentu saja
hadiah itu tetap menjadi milikku karena akulah yang memberikan hadiah
itu." Guru bijak ini tersenyum, lalu berkata, "Kamu benar sekali. Kamu
baru saja memberikan “hadiah” marah dan hinaan kepadaku dan aku tidak
mengambilnya, apalagi merasa terhina. Maka kemarahan dan hinaan itu pun
kembali kepadamu. Dan kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak
bahagia. Bukan saya, karena sesungguhnya, melampiaskan emosi kemarahan
adalah sebuah proses menyakiti diri sendiri. Membangkitkan sel-sel
negatif di dalam diri" Pemuda itu terdiam, mencoba mencerna kata demi
kata sang guru. Perlahan tapi pasti, kepala dan hatinya seperti tersiram
air dingin, ketika mendapat sebuah kesadaran baru. Sebelum meninggalkan
sang pemuda ini, sang guru bijakpun menyampaikan sebuah “Closing
Remarks” untuknya, "Jika kamu ingin berhenti menyakiti diri sendiri
singkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu
membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia bahkan tersakiti
secara alami. tetapi ketika kamu mencintai orang lain, semua orang
menjadi bahagia."
Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan
fikiran kita agar senantiasa bersabar dalam segala hal sehingga kita
mendapatkan balasan tak terhingga yang dijanjikan-Nya. SMG BERMANFAAT WAL
BARAKAH

No comments:
Post a Comment