oleh guru kita Al Habib Muhdor Alhamid
Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh dan model penampilan kalian, tetapi Allah melihat (keikhlasan) hati kalian." [HR Muslim].
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh dan model penampilan kalian, tetapi Allah melihat (keikhlasan) hati kalian." [HR Muslim].
Catatan penting..
Allah SWT menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya.
Allah tidak menilai Ibadah dari kwantitasnya tapi dari kwalitasnya.
Firman Allah swt. “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang “Ahsanu Amala” yang lebih baik
amalnya.” [QS Al-Mulk: 2]. Fudhail bin Iyadh menafsirkan kata “Ahsanu
Amala” dengan Akhlashahu Wa Ashwabah (Yang paling ikhlas dan paling
benar) [Tafsir Al-Baghawi] Jadi kwalitas itu berkaitan dengan
keikhlasan. Maka dari itu sungguh sia-sia jika ibadah dilakukan dengan
tidak ikhlas.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada
hari kiamat adalah Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan
lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan
kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa yang kamu
perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?" dia menjawab, "aku berperang di
jalan-Mu sampai aku mati syahid." Allah berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ
"Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ
"Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu
(agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Qur'an. Maka dia
didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah
diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa
yang kamu perbuat padanya?" dia menjawab, "aku mempelajari ilmu
(agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu." Allah
berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, "ia adalah qari' (ahli membaca AlQuran)," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, "ia adalah qari' (ahli membaca AlQuran)," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan
(harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka
dia di datangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah
diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa
yang kamu perbuat padanya?" dia menjawab, "Aku tidak menyisakan satu
jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku
berinfak di situ untuk-Mu." Allah berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, "dia adalah orang dermawan," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka." [HR. Muslim]
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, "dia adalah orang dermawan," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka." [HR. Muslim]
Senada dengan hadits di atas terdapat kisah seorang alim
dan bijaksana yang hendak menguji keikhlasan orang-orang yang ingin
membangun sebuah masjid. Ia bertanya : " jika niatmu telah benar, aku
ingin tanya, bagaimana jika setelah masjid selesai dibangun masyarakat
menganggap orang lain yang telah membangunnya ? mereka sama sekali tidak
menyebut namamu?. "
Jika ia ikhlas maka ia tidak akan mempermasalahkannya.
Sebab ikhlas itu seperti gula pasir yang memberi rasa manis pada kopi,
tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula namun gula pasir
tidak mempermasalahkannya. Gula pasir juga memberi rasa manis pada teh,
tapi orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. Namun lagi-lagi gula
pasir tidak mempermasalahkannya dan gula tetap ikhlas larut dalam
memberi rasa manis. Sebaliknya jika setelah banyak minum teh dan kopi
yang manis tadi seseorang menderita penyakit maka barulah orang-orang
menyebutnya penyakit gula. Begitulah hidup itu alvers, kadang kebaikan
yang kita tanam tak pernah disebut orang, tetapi kesalahan kita yang
disebut-sebut bahkan dibesar-besarkan. Maka tetaplah semangat untuk
memberi kebaikan karena kebaikan tidak untuk disebut-sebut, bukankah
orang yang ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas yang tidak ada kata
"Ikhlas" di dalamnya. Maka cukuplah Allah swt yang menjadi saksi
kebaikan kita. Wallahu A’lam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai
orang-orang yang ikhlas dalam setiap amal perbuatan kita.SMG BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment